Breaking News
Loading...

Al-Amin, Manusia Tahu Diri

Akibat banjir pasca penyerangan Abrahah terhadap Ka’bah, bangunan suci itu sempat rusak, dan oleh karenanya dilakukan suatu pemugaran total terhadapnya. Setelah pembaharuan Ka’bah rampung dan ingin mengembalikan Hajar Aswad ke tempat semula, timbul perselisihan di antara berbagai kaum dalam suku Quraisy. Masing-masing merasa lebih berhak terhadapnya, akibat setiap kaum merasa lebih utama. Hampir saja perselisihan itu meletuskan peperangan antarsesama, dan nyaris menimbulkan pertumpahan darah.

Ketika perselisihan hampir mencapai puncak, dan ketika perang nyaris meletus, datanglah seorang tua Quraisy yang bijaksana untuk menengahi mereka. Dialah Umayyah Ibnu Mughirah. Orang tua ini secara bijak mengusulkan sebuah pemecahan rasional dan adil, bahwa perselisihan antarkaum hendaknya diselesaikan bukan dengan perang, tetapi dengan cara minta keputusan dari seorang hakim yang dipilih dari orang yang pertama kali datang ke Masjidil Haram. Orang inilah, yang hasil keputusannya, apa pun bentuknya harus diterima oleh semua pihak. Usulan ini rasional, dan oleh karenanya semua pihak menyetujuinya.

Akhirnya, setiap kaum duduk, menanti, siapa yang bakal datang pertama, menjadi hakim yang memtuskanya bakal diridhai bersama. Dalam situasi itu, keheningan menyeruak di hati mereka. Suasana menjadi sepi, keheningan menggigiit hulu hati, dan hati pun dag-dig-dug, berdebar menanti. Dalam benak, mereka masing-masing bertanya: siapa yang akan hadir pertama? Dalam hati mereka juga menduga-duga: pihak mana yang bakal diuntungkan, mendapat berkah dari hakim yang tidak terduga.

Penantian mereka akhirnya segera terselesaikan, dan kecemasan mereka akhirnya terpecahkan, ketika dari kejauhan tampak seorang pemuda tengah baya (usia 35 tahun) melangkah lambat, menuju mereka, Ka’bah Baitullah. Dialah Muhammad bin Abdullah, seorang manusia agung, yang oleh siapa pun tidak diragukan kejujuran dan kebijakannya. Begitu mereka melihatnya, mereka berseru kegirangan, “Dia adalah Muhammad, dia adalah sebaik-baik hakim.” Tampak sekali, roman mereka memperlihatkan kepercayaan, keyakinan, bahwa manusia yang dikaruniai kelebihan ini pasti akan memberikan pemecahan yang sangat bijaksana.

Begitu Muhammad mendengar aka rdari perselisihan kaum, ia pun lantas berkata kepada mereka, “Berikan kepadaku sorban.” Buru-buru kepadanya diberikan apa yang diminta. Lantas Muhammad menghamparkan sorban ke tanah, yang kepadanya Muhammad meletakkan Hajar Aswad tepat di tengah-tengah, lalu berseru, “Hendaklah masing-masing kalian, wakil dari setiap kaum memegang ujung dari sorban ini, lantas angkatlah secara bersama-sama.” Mereka segera berkumpul, melakukan apa yang diperintahkan Muhammad, anak manusia yang muda usia tetapi terkenal luhur pekertinya.

Setelah batu itu diangkat dan dibawa mendekati tempatnya Muhammad lantas mengangkatnya dan meletakkan di tempatnya. Subhanallah. Pemecahan yang bijaksana ini memuaskan setiap kamu berselisih. Masalah yang nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akhirnya berhasil diselesaikan, dengan memuaskan semua pihak. Muhammad memberi kesempatan bersama untuk mengangkatnya, dan bukan secara egois diangkat oleh Muhammad sendiri. Dialah Al-Amin, orang luhur yang luput dari sifat-sifat puas diri, egois untuk kepentingan diri sendiri.

0 comments :

Post a Comment

 
Toggle Footer