Breaking News
Loading...

Penyakit Hati Lebih Berbahaya Dibandingkan Penyakit Tubuh

Penyakit-penyakit hati lebih mengganggu dan lebih berbahaya, lebih parah dan lebih buruk daripada penyakit-penyakit tubuh ditinjau dari berbagai segi dan arah. Yang paling merugikan dan paling besar bahayanya ialah karena penyakit hati mendatangkan mudarat atas seseorang dalam agamanya, yaitu modal kebahagiaannya di dunia dan akhirat; dan bermudarat bagi akhiratnya, yaitu tempat kediaman yang baka, kekal, dan abadi.

Adapun penyakit tubuh tidaklah mendatangkan mudarat atas seseorang kecuali dunianya yang fana yang segera sirna, serta tubuhnya yang menjadi sasaran penyakit akan hancur luluh dalam waktu yang cepat. Apalagi penyakit tubuh itu amat berfaedah bagi seseorang dalam agama dan akhiratnya. Sebab, Allah SWT menyediakan pahala besar bagi si penderita sakit, di samping banyak faedah dan manfaat lainnya yang segera ataupun pada waktu mendatang, sesuai dengan yang disebutkan dalam berbagai ayat dan hadits tentang pahala yang disediakan pada penyakit dan bencana yang menimpa tubuh.

Kemudian, karena penyakit hati tidak terjangkau secara indrawi dan tidak menimbulkan rasa sakit, sulitlah ia diketahui dan ditemukan. Perhatian padanya amat sedikit dan daya upaya untuk mengobatinya pun lemah sekali, seperti yang disebutkan oleh Imam Al-Ghazali, “Penyakit hati itu laksana penyakit sopak (belang) di wajah seseorang yang tak memiliki cermin. Jika ia diberi tahu orang lain pun, mungkin ia tak memercayainya.”

Selain itu, berbagai azab dan hukuman yang diancamkan atas diri seseorang sebagai akibat penyakit-penyakit hati, kelak di akhirat, adalah sesuatu yang sulit diterima oleh kaum yang lalai. Atau, mereka melihatnya sebagai sesuatu yang masih lama sekali datangnya. Adakalanya mereka bahkan meragukankannya. (Semoga Allah SWT melindungi kita darinya.) Atau, berangan-angan akan diselamatkan darinya dengan berbagai harapan yang menipu, semata-mata karena terlalu “berani” kepada Allah. Sehingga, ampunan dan keselamatan meski tanpa berusaha untuk memperolehnya.

Disebabkan hal-hal seperti itu, banyak penyakit hati yang terus tersembunyi, bahkan makin kuat mencengkeram, sementara orang-orang yang lalai selalu teledor untuk mengobatinya sehingga makin lama makin sulit diobati. Bahkan, adakalanya seseorang dari mereka mengetahui bersemayamnya sesuatu penyakit di hatinya, tetapi ia tidak peduli dan tak menghiraukannya. Padahal, sekiranya ia mengetahui adanya suatu penyakit di tubuhnya ataupun orang lain memberi tahunya tentang hal itu, pasti besar sekali perhatian yang ditujukan kepadanya. Ia akan menjadi sangat takut, lalu bersungguh-sungguh berdaya upaya untuk mengobatinya dengan mengerahkan apa saja yang dapat dilakukannya. Sebab, seperti yang telah kami sebutkan, penyakit hati itu tak terjangkau secara indriawi dan tidak ada rasa sakit yang menyertainya segera. Juga, hukuman-hukuman yang diancamkan terhadap itu tidak tampak, dan kalaupun ada, ia baru akan terwujud kelak setelah mati dan berada di akhirat. Sedangkan orang yang lalai menganggap maut dan segala yang datang sesudahnya sebagai sesuatu yang amat jauh. Padahal, sekiranya menggunakan akalnya dan keyakinannya, niscaya ia akan mengetahui bahwa maut adalah sesuatu perkara ghaib yang paling cepat datangnya. Seperti disabdakan oleh Rasulullah Saw. Dan sebagaimana juga belilau pernah bersabda, “Surga itu lebih dekat kepada seorang di antara kalian daripada tali sandalnya.” Demikian pula neraka.

Penyakit hati sungguh banyak ragamnya. Yang paling berbahaya dan paling mudarat ialah kebimbangan dalam agaman. Selain itu, lemahnya keimanan kepada Allah, Rasul-Nya, serta kediaman di akhirat. Juga, sifat riya (ingin dipuji oleh manusia) dalam berbuat kebajikan. Angkuh terhadap hamba-hamba Allah, bakhil, iri hati, dengki, curang, cinta akan dunia dan sangat ingin mempertahankannya, panjang angan-angan (yang menyebabkan selalu menunda tobat), lupa akan maut, lalai akan akhirat, mengabaikan persiapan untuknya, serta berbagai macam penyakit hati lainnya.

Mengingat bahwa hati manusia tertutup dari perasaan indriawi, sedangkan penyakit-penyakit hati tidak disertai rasa sakit yang dapat dijangkau dengan alat-alat lahiriyah, wajiblah atas manusia berakal, yang prihatin akan agamanya serta keselamatan akhiratnya, untuk sungguh-sungguh berusaha menyelidikinya sehingga ia dapat segera menangani dan mengobatinya sebelum maut datang mendadak dan ia pun menuju Tuhannya, lalu berhadapan dengan-Nya dengan hati yang tak sehat – yang karena itu ia akan merugi, binasa bersama dengan orang-orang yang binasa lainnya.

0 comments :

Post a Comment

 
Toggle Footer