Breaking News
Loading...

Dua Macam Dosa

Dosa itu ada terbagi dua. Dosa terhadap Tuhan dapat engkau hapuskan dengan sebuah penyesalan tak kan mengulanginya lagi. Mohon ampunan.

Dosa terhadap sesama, hanya bisa sirna bila ia memaafkannya. 

Dosa adalah segala sesuatu yang diperbuat manusia yang membuat Allah marah. Salah satu yang membuat Allah marah yaitu pelanggaran terhadap aturan-Nya. Di antara melanggar aturan Allah adalah menyakiti hati manusia lain. Yang demikian itu disebut dosa kepada manusia.

Dosa kepada Allah gampang cara menghapuskannya. Yaitu dengan taubat nasuha, taubat yang sebenar-benarnya. Tobat nasuha dilakukan dengan cara (1) menyesali perbuatan tersebut, (2) berjanji tidak akan kembali mengulangi dan kemudian, (3) mengiringi dosa tersebut dengan kebaikan. Dengan taubat itu Allah tidak jadi marah. Makin baik taubatnya justru akan membuat Allah senang. Sama seperti anak kecil yang berbuat salah kepada ibunya, misalnya memecahkan vas bunga kesayangan ibunya. Anak yang baik pasti minta maaf sudah memecahkan vas. Ia berjanji tidak akan bermain-main di dalam rumah yang dapat menyebabkan barang-barang kesayangan ibunya menjadi rusak. Lalu ia berkelakuan baik dengan cara membantu sang ibu seperti menyapu halaman atau meyiram tanaman supaya ibunya senang. Sudah selayaknya manusia itu pun seperti itu kepada Allah.

Sementara dosa kepada manusia tidak bisa begitu saja hilang. Misalnya dengan hanya beristighfar kepada Allah, melakukan shalat, dan sebagainya tidak cukup untuk menghapus dosanya. Ia harus meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. Orang yang telah dizalimi tersebut harus memaafkan sehingga tidak menyisakan suatu perasaan marah di dalam hatinya. Barulah dosanya diampuni Allah. Untuk tidak menyisakan “utang” dari orang yang bersangkutan maka terlebih dahulu harus “melunasinya”. Maksudnya, jika bentuk kezalimannya misalnya mencuri uang maka ia harus mengembalikan uang tersebut. Seseorang yang korupsi harta perusahaan maka dia harus mengembalikan dulu hasil korupsiannya sebelum minta maaf kepada atasannya. Seseorang yang berhutang harus membayar hutangnya terlebih dahulu. Seribu maaf tidak akan berarti kalau yang mengutangi tidak mau me-write off utang.

Yang agak susah adalah bentuk kezaliman berupa ghibah (ngomong orang) atau fitnah. Kalau seseorang menyebarkan kabar buruk yang tidak benar tentang seseorang maka dia telah memfitnah saudaranya. Ketika sadar, dia tidak bisa begitu saja minta maaf. Ia harus meralat perkataannya. Kalau fitnahnya sudah menyebar kemana-mana ini memang repot. Seorang bijak pernah ditanya, “Saya sudah menyebarkan berita buruk tentang seseorang ke sana kemari padahal itu tidak benar. Bagaimana saya memperbaiki diri?” Orang bijak tersebut berkata, “Seandainya kamu keluar rumah menuju pasar kemudian sambil berjalan kamu menabur kapas sepanjang jalan. Saat kembali dari pasar ke rumah, bisakah kamu kumpulkan kembali kapas tersebut dalam jumlah yang sama?” Tentu saja tidak bisa. Apalagi jika angin bertiup sangat kencang, kapas tersebut terbang hingga jauh tinggi. Begitulah susahnya memperbaiki diri jika sudah menyebar fitnah ke mana-mana.

Jika demikian, kita hanya bisa minta dihalalkan dari orang tersebut. Semoga dia memaafkan dan merelakan apa yang telah kita perbuat. Para ulama ada yang mengatakan taubatnya orang yang telah ghibah adalah memuji dan menyebarkan kebaikan dari orang yang telah difitnah. Hitung-hitung supaya impas. Sekali lagi, asal orang tersebut merelakannya.

Mengapa kita harus minta maaf dan dihalalkan dari orang yang kita zalimi. Sebab, hal tersebut akan dibawa sampai akhirat. Orang yang zalim dan menyakiti sesama, jika belum selesainya urusannya, nanti pahala kebaikan yang ia miliki akan diberikan kepada orang yang dizaliminya. Apabila amal kebaikannya sudah habis maka dosa yang dizalimi dilimpahkan kepada orang yang menzalimi. Sungguh percuma amal ibadah yang dengan susah payah telah dilakukannya.

Apabila ada seseorang yang berutang dan tidak dapat melunasinya sampai mati, di akhirat juga harus dibayar. Caranya dengan memberikan pahala amal kebaikannya kepada orang yang dihutangi. Kecuali orang-orang yang sungguh berusaha membayar waktu di dunia. Allah berjanji kepada orang yang seperti itu untuk “membayarkan” utangnya. Bagaimana caranya? Di dunia, mungkin Allah akan memudahkan baginya untuk mendapatkan uang agar bisa melunasi utang. Mungkin Allah juga akan meluluhkan hati orang yang mengutangi untuk menganggap lunas saja. Di akhirat, Allah akan mengatakan kepada orang yang mengutangi, “Utangmu mau dibayar dari pahala dia, atau Aku yang akan membayarnya?” pasti orang tersebut lebih suka dibayar Allah. Alhasil, pahala orang yang berutang tersebut utuh, tidak diambil. Syaratnya, di dunia harus sungguh-sungguh berusaha membayar hutang.*

0 comments :

Post a Comment

 
Toggle Footer